Tahun 2014 akhir, saya menuliskan 25 fakta tentang diri saya. Nah 3 tahun ini, saya banyak berubah. Mungkin perlu merevisi 25 fakta tentang diri saya. Dan saya yakin bahkan istri saya pun tak tahu fakta ini. Here they are: 1) Apa yang paling membahagiakan di dunia ini? Melihat anak istri bahagia, itu kebahagian. Selebihnya hanya pemanis. 2) Cita-cita di lifepan apa yang masih belum terwujud sampai sekarang? Masuk Indosat trus jadi Dirut. *Njilalah Dirutnya keburu resign kemarin 3) Lagi kepengen banget hiking atau tracking menembus hutan kayak ninja hatori. Just for finding a new inspiring thing. 4) Siapa yang paling dirindukan selain keluarga? Anak-anak JS. Setelah lihat video-video JS lagi, jadi pengen kumpul bareng. 5) Kalau lagi ga ada kerjaan, biasanya ngapain? Ngelamunin masa depan, membayangkan besok mau jadi apa, istri mau jadi apa, anak mau jadi apa. Utak atik lifeplan saja 6) Emangnya kebayang apa tentang masa depan anak? Saya selalu membayangkan Q nanti jadi diplomat di...
Ada sebuah keprihatinan serta kejumudan yang sangat mendalam melihat realita bahwa negeri ini hanya didominasi pemimpin-pemimpin kerdil. Pemimpin-pemimpin yang hanya cakap bersilat lidah namun zero action di dunia kepemimpinan. Padahal, negeri ini tengah dilanda krisis multidimensional yang membutuhkan pemimpin-pemimpin solutif yang mampu menghadirkan perbaikan. Kita lihat saat ini, proses kaderisasi kepemimpinan bangsa mengalami degradasi yang luar biasa. Belum banyak pemimpin dalam arti sesungguhnya yang berhasil dicetak. Kaderisasi yang dijalankan hanya mampu menghasilkan sekerumun manusia “aneh” yang saling memperebutkan hak atas kepemimpinan bangsa. Sikut kanan sikut kiri adalah halal dalam kamus mereka selagi itu dapat mengantarkan pada pintu kepemimpinan. Padahal manusia-manusia seperti mereka ini tidak memiliki sesuatu yang menyebabakan ia layak memimpin. Tidak ada kata lain bagi kita sebagai akademisi selain mengembalikan fitrah kepemimpinan bangsa pada proses yang benar. ...
Ada sebuah keprihatinan tersendiri saat melihat bangsa ini dilanda sebuah masa penuh ketidakpastian. Ketidakpastian akan regulasi, ketidakpastian akan kepemimpinan dan ketidakpastian akan harapan kehidupan mereka yang ditentukan oleh regulasi dan kepemimpinan tersebut. Dan itu semua menjadi sebuah hal yang sudah tidak asing lagi. Masa kolonialisme, masa orde lama, dan masa orde baru telah menjadi saksi betapa masa ini menjadi masa-masa yang sulit. Lebih dari 400 tahun semenjak kedatangan kolonial Belanda, bangsa ini belum mengalami suatu kemajuan yang signifikan. Peralihan tampuk kepemimpinan dari masa ke masa terus bergulir, namun harapan akan sebuah kepastian memudar seiring dengan ketidakefektifnya kepemimpinan. Kolonialisme selama berabad-abad telah melahirkan generasi-generasi bangsa yang bermental terjajah. Akhirnya kita bersuka cita dengan berakhirnya masa kolonialisme itu dengan gaung kemerdekaan. Namun yang terjadi malah suatu paradoks yang justru melahirkan kolonialisme b...
Komentar
Posting Komentar