Postingan

Menampilkan postingan dengan label Islamia

Andai Kalian Tak Menemukanku di Surga

Gambar
Manusia dicipta sebagai hamba yang kerap alpa. Pelupa dan durhaka. Ia berdosa. Lalu memanjatkan doa pengampunan. Lalu berdosa. Kemudian berdoa. Begitu-begitu saja. Maka Allah ciptakan manusia saling bersaudara. Mengasihi dan saling menasehati. Dalam kebenaran. Dalam kesabaran. Agar kita saling merindu dalam rapatnya majelis ilmu. Agar kita saling berdekap dalam mengingatNya. Ijlis biina.. Duduklah bersama kami.. Nu'minu saa'ah.. Berimanlah sejenak.. Maka, "Andai kalian tidak menemukan aku di surga..", satu waktu Ibnul Jauzi berpesan pada sahabatnya. "..maka tanyakanlah tentang aku kepada Allah. Ucapkan: ’Wahai Rabb kami, hambaMu fulan, dulu dia pernah mengingatkan kami untuk mengingat Engkau.”

Kajian Shirah Shahabat: Meneladani Generasi Awal

Gambar
Imam Malik rahimahuLlah pernah berkata: "Tidak akan pernah baik generasi akhir zaman ini, kecuali jika generasi akhir ini memperbaiki diri sebagaimana generasi awal memperbaiki diri." Ada 2 karakter utama yang melatarbelakangi mengapa generasi awal umat ini menjadi umat terbaik yang Allah keluarkan di tengah umat manusia keseluruhan. Karakter pertama generasi awal ialah ikhlas liLlahi ta'ala. Seluruh ibadah, niat, aktivitas, doa, harapan, takut, taat hanya ditujukan pada Allah semata. Ini ciri pertama, utama dan paling penting. Seperti 2 kisah Abu Bakr as Shiddiq, radhiyaLlahu 'anhu berikut. Dari Umar bin Khathab . Ia berkata, “ Rasulullah memerintahkan kami untuk bersedekah. Pada saat itu aku memiliki harta. Lalu aku berkata, ‘Hari ini aku akan dapat mendahului Abu Bakar. Lalu aku datang membawa separuh dari hartaku . Rasulullah  bertanya, ‘Tidakkah kau sisakan untuk keluargamu? ‘ Aku menjawab,’Aku telah menyisakan sebanyak ini.’ Lalu Abu Bakar d...

Barakah Waktu

Gambar
Barat, me-manajemen waktu dengan membagi-bagi aktivitas ke dalam 4 kuadran. Prioritas diurutkan berdasarkan yang penting dan yang mendesak. Muslim, me-manajemen waktunya dengan mengerjakan seluruh aktivitas yang bisa ia kerjakan. Kemudian, ia berdoa, mengharapkan hadirnya barakah Allah pada waktu dan aktivitasnya. Apa itu barakah waktu? Saat banyaknya kebaikan yang dapat dikerjakan dalam waktu yang sedikit. Bagaimana agar waktu menjadi barakah? Ada 2: menjaga shalat lima waktu, di awal waktu, berjamaah di masjid..dan..walau sedikitpun, tetaplah membaca alQuran setiap harinya. (Dirangkum dari kajian shirah, Masjid WTC Sudirman) Baarakallahu lii wa lakum Selamat pagi #Time #Barakah #Management   Jakarta, 8 April 2015 -SI-

jogja, apa yang aku Rindukan darimu?

Gambar
Jogja itu ngangeni . Begitu kata mereka yang pernah hidup dan tinggal di sana. Atau hanya sekedar mampir, sejam dua jam. Maka abadi-lah kerinduan akan Jogja. Apa yang paling kurindukan dari Jogja? Salah satunya adalah waktu berjalan (seolah) melambat di Jogja. Lebih lambat dari hiruk pikuk nya kota besar semacam Jakarta. Melambatnya waktu, membuatmu memiliki waktu yang lebih luas untuk belajar dan saling nasihat-menasihati akan kebaikan.  Jogokaryan, 4 April 2015. Maka aku memilih untuk "numpang" singgah sejenak sehari di Jogokaryan. Mencari kembali suasana dan lingkungan yang baik untuk mengingat Tuhan.    Naik turunnya iman di Ibukota, akan memaksamu untuk mencari lingkaran kebaikan seluas-luasnya, jika tidak ingin kehilangan untuk selamanya. Sore itu, Masjid Jogokaryan terlihat sepi menjelang kumandang adzan Ashar. Lalu, setelah selesai salam shalat, pandanganku menyapu sekeliling. Masya Allah, Laa haula wa laa quwwata illa biLlah. Jama'ahnya...

Suka-Suka Allah aja

Membosankan memang kadang. Saat banyak pertanyaan diajukan untuk sesuatu yang kita sendiri tidak tahu jawabannya. Tentang banyak hal yang domain-nya Allah dan menjadi hak prerogatif-Nya. Tentang rencana-rencana yang kita susun untuk masa depan yang penuh misteri. Ada banyak dari mereka yang Allah mudahkan baginya akan cita-cita. Allah lancarkan jalannya. Allah angkat duri yang menghalangi gerak kakinya. Akan kita lihat, banyak sekali mereka yang, misal: membangun bisnis dari nol, tanpa modal, ada yang modali. Setahun dua tahun sudah membuka dua tiga cabang. Sepuluh lima belas tahun sudah membuka franchise di beberapa negara. Betapa Allah mudahkan rizkinya. Ada banyak dari mereka yang Allah tangguhkan baginya akan cita-cita. Seolah-olah Allah persulit jalan dan ikhtiarnya. Seolah selalu saja ada yang menghalanginya dari kesuksesan. Walau keberhasilan itu perlahan akan tiba, namun semua diraih dengan lika-liku yang amat memberatkan dan melelahkan. Ada juga, dari mereka yang Alla...

Ekspektasi

Aku memperhatikan sekitar ku. Mereka yang resign dari pekerjaannya masing-masing. Tidak sesuai ekspektasi, alasan mereka. Mereka yang putus dari pasangannya. Jauh dari apa yang dibayangkan sebelumnya, penyebabnya. Mereka yang gagal dalam mengejar cita-citanya: kecewa, lalu mati perlahan dalam khayalan-khayalan indah. Aku percaya bahwa: Berada dimanapun, Bersama siapapun, Melakukan apapun, Akan tiba satu waktu: saat itu semua terasa jauh dari apa yang kita harapkan. Satu masa dimana kenyataan tak semanis bebayang ekspektasi. Kita terlampau tinggi, menggantungkan harapan setinggi langit. Padahal, kita hanyalah makhluk bumi. Maka, menaruh harapan pada makhluk bumi adalah kejahiliyahan paling primitif yang pernah ada. Sebagaimana Quraisy menaruh nasib pada: anak panah, terbangnya burung, pada Latta dan Uzza. Menitipkan harapan pada sang Pencipta. Begitu para bijak bestari selalu berpesan. Karena Dia lah yang menepati segala janji. Hanya Dia lah ...

Yang Hilang

Gambar
Ada yang hilang dari kehidupan saya: barokah waktu. "Pertanda hadirnya keberkahan Allah pada waktu-waktu seorang hamba," tutur ulama, "adalah saat sangat banyaknya amal kebajikan yang dilakukan dalam waktu yang sangat sedikit." Benar saja. Saya jauh dari itu. Bahkan kebalikannya. Saat sangat sedikitnya kebajikan yang dapat dikerjakaan, dalam waktu yang sangat banyak. Subhanaka ya Rabb, inni kuntu minadzh-dzhalimiin.   Tercerabutnya keberkahan Allah dalam waktu-waktu yang dijalani.  Membelah diri, adalah yang selalu saya andai-andaikan.    Namun sayangnya saya tak dapat membelah diri menjadi 7. Satu untuk beribadah. Satu untuk belajar. Satu untuk mencari nafkah. Satu untuk bermuamalah. Satu untuk rekreasi. Dan satu untuk menjemput jodoh. Serta satu lagi untuk cadangan, bila-bila jodoh kita memang tidak hanya satu pilihannya. Cukuplah untaian Ibnu Mas'ud berikut untuk menutup celoteh saya yang tak jelas ini, "Tidaklah aku menyesal mel...

Mencintai Muhammad

Gambar
Suaranya merdu, walau agak samar. Seorang ibu berjalan menuruni lorong sempit sebuah tangga di depanku persis.  Shalawat atas Nabi-Nya terlantun dari lisannya. Sembari menuruni satu demi satu anak tangga Minaret Masjid Agung Banten Lama siang itu. Ia lantunkan berulang-ulang hingga anak tangga terakhir. Dan tetiba aku teringat dua kisah Rasul. Tentang mereka yang lebih baik dari para Sahabat. Mereka yang mencintai RasulNya lebih dari mereka mencintai diri mereka sendiri.  Semoga Allah memasukkanku dan kalian ke dalam kaum yang mencintai Allah dan RasulNya. Hingga Allah dan RasulNya pun mencintai mereka. "Suatu saat kami pernah makan siang bersama Rasulullah SAW dan ketika itu ada Abu Ubaidah bin Jarrah RA yang berkata “Wahai Rasulullah SAW adakah orang yang lebih baik dari kami? Kami memeluk Islam dan berjihad bersama Engkau. Beliau SAW menjawab “Ya, ada yaitu kaum yang akan datang setelah kalian, yang beriman kepadaKu padahal mereka tidak melihat Aku...

Apa yang Kau Kejar?

Gambar
"Kerjarlah dunia, niscaya akhirat kan lari meninggalkanmu. Kejarlah akhirat, niscaya dunia dan akhirat kan tunduk padamu." ~ Adagium yang indah untuk menggambarkan lika-liku hamba Tuhan . Berjalan tak tentu arah, entah apa dan siapa yang dikejar. Untuk siapa dan mengapa harus dikejar.  Ada 2 mata kuliah. Yang pertama kamu pasti mendapatkan A. Pasti A. Yang kedua tak tentu. Hanya Tuhan dan dosen saja yang tahu. Lalu mana yang akan kau kejar? Dengan ikhtiar yang sungguh. Nalar yang paling tak nalar sekalipun pun akan sepakat. Tak perlu ngoyo mengejar yang pertama. Tak akan lari ia dikejar. Sementara, yang kedua lah yang menjadi sang tanda tanya. Ia yang jauh paling layak untuk kita kejar. Mati-matian. Pun dunia. Juga akhirat. Dunia: kehidupan, kematian, rizki, jodoh, celaka, bahagia. Ia sudah tertulis di Lauhul Mahfudz-Nya. Ia sudah pasti menjadi ketetapan atas kita. Tugas kita hanya menjemputnya. Karena ia pasti kan datang. Akhirat lah yang mister...

Kutipan Doa: "Aku siap menikah! ......dengan siapapun yang Allah pilihkan"

Gambar
Merekonstruksi perjalanan Khidir dan Musa. Mungkin adalah judul yang tepat untuk hikmah satu harian, pada beberapa hari lalu. Tapi saya bukan Musa, meskipun dapat sekelumit pelajaran (lebih tepatnya tamparan), hari itu. Dan saya sendirian, tidak bersama pemberi hikmah seperti Khidir. Saya hanya memilin hikmah otodidak dari akal saya yang suka nyeleneh. Ini tentang satu fase kehidupan. Setengah Agama. Yang saya pribadi entah kapan diperkenankan Allah untuk melangkah. Mungkin karena Dia paham, saya masih pada level, yang kata Cak Nun, terjangkiti "takhayul yang enak-enak tentang rumah tangga." Anyway, here it's. Semoga kita sama-sama mendapat hikmah. Rabbi anzilni mundzalan mubaarakan. ****** Menjelang Zuhur dalam sebuah penantian. Menanti Commuterline, maksudku. Seorang wanita berjilbab lebar, sebut saja Akhwat. Duduk di ujung peron stasiun Manggarai. Menanti Commuterline, juga. Sembari bertilawah. Masya Allah, shalihah betul. Lupakan dia. Mari me...