Postingan

“Maaf, dia gay”

Gambar
Hari itu menjadi hari yang biasa bagiku. Merapikan data-data anggota, sembari merampungkan laporan akhir tahun. Oh ya, sekaligus menyelesaikan laporan kegiatan pelatihan kader tingkat akhir dua pekan lalu. Dan satu lagi, mencari referensi di dunia maya guna laporan praktikum yang kudu dikumpul lusa. “Duh, kok ya numpuk gini sih”, gumamku. Ya begitu lah, nasib akhir tahun. Semua tugas serasa baru bermunculan. Efek samping dari menunda. Dan akhirnya jurus maut harus dikeluarkan: kejar tayang. “Nikmati saja, bro”, begitu aku berbicara pada diriku sendiri yang mulai lelah. “Ganbatte kudasai”, aku menyemangati diriku. Padahal aku sendiri juga tak begitu paham artinya. Ah, siang itu menjadi siang yang sungguh sepi. Ya, maklum, pikirku. Siang bolong gini, biasa mahasiswa, kalau tak di dalam kelas ya berarti di atas kasur. Dan anggota Rohis juga mahasiswa biasa. Jadilah di sekretariat Rohis Universitas Madani hanya ada aku dan suara keyboard komputer yang beradu dengan suara bebe...

Donna.. Donna..!

Gambar
Jika Anda pernah menyaksikan film ‘Gie’ besutan Riri Riza dan dibintangi Nicholas Saputra, pasti Anda tidak akan lupa dengan salah satu lagu yang menjadi soundtrack film ini. Judulnya ‘Donna Donna’, yang dalam film ini dinyanyikan oleh Sita ‘RSD’ yang memerankan tokoh Ira. ‘Donna Donna’ merupakan lagu yang dialihbahasakan dari Ibrani menjadi Inggris dengan aransemen ulang. Dan dalam ‘Gie’, ‘Donna Donna’ juga mengalami aransemen ulang. ‘Donna Donna’ menggambarkan sebuah semangat kebebasan dan perjuangan menuntut kebebasan tersebut. Sangat cocok untuk menggambarkan sosok Soe Hok Gie. Dalam ‘Donna Donna’ dikisahkan seekor anak sapi bersedih, mengeluhkan nasib dan takdir hidupnya. Ia mengeluh, mengapa takdirnya menjadi sapi, membajak sawah dan akhirnya disembelih, tanpa tahu alasannya. Ia iri pada burung, pada angin. Ia iri pada mereka yang terbang bebas di angkasa, tertawa riang sepanjang hari. Hingga seorang petani menegurnya. “Berhentilah mengeluh!”, kata petani. “Mengapa engkau ...

Men Are From Mars, Women Are From Venus (?)

Gambar
Alkisah, di satu masa, seorang makhluk perkasa, yang kini kita kenal sebagai lelaki, tinggal di sebuah planet bernama Mars. Di planet lain, yakni Venus, tinggal seorang makhluk cantik jelita, yang kini kenal sebagai wanita. Satu waktu, lelaki Mars ini tanpa sengaja menyaksikan keindahan rupa wanita di Venus tersebut. Hari berganti hari, hasrat dan getar cinta makin menjadi di hati lelaki. Tak kuasa, akhirnya lelaki ini pergi ke Venus, menemui wanita tersebut, menyatakan cintanya. Cinta pun bersambut. Akhirnya, mereka putuskan untuk hidup bersama, selamanya. Dan diputuskan lah juga bahwa mereka akan hidup di Bumi. Di bumi, ternyata segalanya mulai berubah. Kehangatan, cinta, romantisme dan kasih sayang kian lama kian memudar. Perselisihan, perbedaan pendapat, ego dan emosi kini mulai mengisi hari-harinya. Dan semenjak di Bumi memang mereka menjadi amnesia. Mereka lupa bahwa mereka berasal dari dua dunia yang berbeda. Berbeda lingkungan, kultur, dan budaya. ****** Cerita di atas hanya...

Let It Be!

Gambar
Bagi Anda penggemar grup band asal Liverpool ‘The Beatles’, lagu ‘Let It Be’ pasti sudah tak asing lagi. Lagu ini pasti ada dalam urutan teratas dalam playlist pemutar musik gadget Anda. Ya, ‘Let It Be’ memang menjadi salah karya terbaik dari grup band paling legendaris seantero bumi ini. Lirik dan syairnya yang dalam dibungkus dengan lantunan irama yang pas, membuat tiap pendengarnya merasakan aura dan suasana batin penciptanya. Paul McCartney, vokalis sekaligus pencipta lagu ini, menuturkan bahwa ia menciptakan Let It Be setalah dalam satu malam ia bermimpi bertemu ibunya yang telah lama tiada. Ibunya, yang dalam Let It Be dipersonifikasikan sebagai Mother Mary , menasehatinya dengan kata yang akhirnya dijadikan judul lagu ini, Let It Be. Para penggemar The Beatles percaya bahwa lagu ini diciptakan Paul McCartney sebagai pergolakan batinnya atas kondisi The Beatles yang diambang bubar. Paul tak ingin grup band yang membesarkan namanya, bubar begitu saja. Dan, Let It Be jela...

(Bukan) Aktivis Dakwah Kampus: Maulana, Maulana!

Gambar
Di tangannya yang tak sempurna itu, sebotol minuman keras tergenggam erat. Sementara, di sekelilingnya ada pesta ala anak muda kota Jogja. Berpasang-pasang, menghabiskan malam purnama di remang-remang lampu kota. Bukan, ia bukan seorang penjual miras. Bukan pula seorang pemabuk. Ia hanya seorang da’i jalanan. Da’i keliling, begitu ia biasa mengenalkan diri pada khalayak ramai. Namanya Ahmad Tukiran Maulana. Lahir di Ponjong, satu kawasan di pelosok Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Maulana, begitu ia biasa disapa, terlahir dengan kondisi fisik (dalam pandangan manusia) tak sempurna. Dengan kondisi fisiknya ini, ia lahir bukan untuk menjadi manusia yang mengeluh sembari meratapi nasib. Ia lahir dengan amal-amal yang luar biasa. Hari-harinya ia habiskan berdakwah dari satu tempat ke tempat lain. Dari satu masjid ke masjid lain, dari satu pengajian ke pengajian lain. Tak peduli, ia tak pernah memandang afiliasi gerakan dan pemikiran perngajian tersebut. Ia sambangi. Pun,...

Anis Matta dan Arlogi 70 Juta

Gambar
Lagi! Gaya hidup anggota dewan kita yang (katanya) terhormat kembali menuai kecaman. Kali ini tentang parade arlogi “wah” politikus Senayan. Bayangkan, puluhan hingga ratusan rupiah dihabiskan hanya untuk sekedar arlogi. Misalnya, politikus Partai Demokrat, Ruhut Sitompul mengaku memiliki arlogi senilai 450 juta. Wow! Tentu saja, yang paling banyak disoroti adalah arlogi Sang Sekretaris Jendral abadi PKS, Anis Matta. Walau tak semahal arlogi milik Ruhut karena “hanya” senilai 70 juta, namun ini dinilai sangat mencedarai hati umat. Tak lain, karena Sang Ustadz ini merupakan seorang politisi dari sebuah Partai Islam dan menisbatkan diri sebagai Partai Dakwah. Di tengah angka kemiskinan bangsa yang masih sangat tinggi. Di saat yang bersamaan, banyak pula kader partainya yang masih hidup dalam serba keterbatasan. Anis Matta dan juga partainya, dinilai sudah keluar dari khittah awal pendirian PKS. Benarkah? *********** Mengomentari fenomena ini, saya menganggap gaya hidup parlente al...

Lelaki di Pintu Surga VS Lembaga di Pintu Neraka

Gambar
Lagi, publik kembali dikejutkan dengan kasus rekening gendut PNS muda. Namanya Dhana Widyatmika (DW), bergelar “Lelaki di Pintu Surga” versi majalah Tarbawi tahun 2007. Namun, kisah bakti pada ibunda mantan pegawai Direktorat Jendral Pajak ini akhirnya menjadi anti-klimaks setelah ia ditetapkan sebagai tersangka atas (dugaan) kepemilikan rekening “tak wajar” senilai 60 miliar. Tak wajar, karena DW karena hanya berstatus PNS gol III/C. Dan kini, media menyebutnya sebagai Gayus (jilid) II. Tapi benarkah? Okay , mari kita diskusikan. ****** Sebelumnya, tulisan ini dibuat sekedar untuk mencurahkan uneg-uneg penulis (yang awam hukum dan perpajakan) sekaligus agar kita lebih berimbang di tengah (maaf) kemuakan penulis terhadap ke- lebay -an media kita hari ini. Ya, karena hidup di zaman yang o ver information ini maka kita harus banyak belajar sembari mencari data dan fakta di saat malas, prematur, dan bungkamnya jurnalis. Dalam siaran pers-nya tertanggal 01 Maret 2012, Kejaksaan ...