Kita Adalah Akumulasi Ketakutan Kita
Saya mengingat kembali salah satu momen paling menegangkan selama saya hidup: ujian sidang a.k.a pendadaran S1. Kala itu, saya membayangkan bagaimana ruang seluas 7 x 7 meter menjadi ruang pembataian seorang anak manusia bernama: Sofiet Isa. Saya membayangkan satu manusia didampingi dua pembimbing melawan tiga penguji tanpa welas asih. Dan saya juga membayangkan konsteleasi akan berubah waktu itu, menjadi satu melawan lima. Pembantaian! Tapi, pada waktunya saya baru tahu, ternyata saya dapat tertawa lepas waktu itu, di ruang itu. Ternyata, pendadaran “cuma segitu saja”, saya membatin selepasnya. Pun, beberapa hari lalu. Saya harus menghadapi hal yang sama: ujian sidang. Tapi, kalau dulu tentang kuliah, kemaren itu di kantor terkait hasil pekerjaan selama satu semester. Terngiang-ngiang bagaimana cerita senior tentang sidang. Satu melawan tujuh kali itu. Tujuh, saudara-saudara. Apalagi, achievement saya belum sampai di level aman. Teror, tak bis...