Kamis, Januari 12, 2012

Menjemput Kebahagiaan Hakiki

Tahukah Anda, apa yang terjadi di dunia setiap 40 detik sekali? Jika kita hitung angka satu, dua, tiga, dan seterusnya, maka pada hitungan ke-40 akan Anda temukan pada saat itu ada orang yang akhirnya mati secara tragis, bunuh diri. Ya, berdasarkan data dari pusat kesehatan dunia, WHO, setiap tahunnya ada lebih dari satu juta manusia mati bunuh diri.

Bagi Anda yang mendalami ilmu psikolologi, pasti sudah tidak asing dengan nama berikut: Sigmund Freud dan Lawrence Kohlberg. Sigmund Freud adalah tokoh psikologi sekaligus pendiri aliran psikoanalisis di bidang psikologi. Sementara Lawrence Kohlberg adalah seorang professor di Universitas Harvard dan Universitas Chicago yang terkenal sebagai pakar perkembangan moral dan karakter manusia. Namun tahukah Anda bagaimana akhir hidup kedua tokoh yang sangat mengerti mentalitas manusia ini? Sigmund Freud mati bunuh diri dengan menyuntikkan tiga dosis morfin sekaligus dan Lawrence Kohlberg juga serupa, mati bunuh diri dengan menenggelamkan dirinya di Samudera Atlantik.

Belum lagi tokoh dan ilmuwan berikut ini: Vincent Van Gogh, Kurt Cobain, Alan Turing, Ludwig Boltzmann, George Eastman, hingga tokoh Nazi yang paling populer, Adolf Hitler. Mereka semua mati bunuh diri. Ironis!

***************

Ini pertanyaan kita semua. Mengapa banyak orang sukses di dunia namun mengakhiri hidupnya dengan cara-cara yang tidak gentle. Bahkan menjadi budaya sendiri di Jepang untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri, harakiri. Terlepas dari segala motifnya, harakiri dan bunuh diri secara umum bagi saya adalah jalan seorang pengecut dalam memandang realita hidup.

Ada sesuatu yang terasa janggal. Kekayaan, kemewahan, pangkat, jabatan, anak dan pasangan hidup, hingga ilmu yang luas lagi dalam, rasa-rasanya tak mampu lagi membahagiakan manusia. Itu semua menjadi sebuah kebahagiaan semu.

Apa yang salah?

Sebenarnya tidak ada yang salah. Nalar manusia pasti akan membenarkan bahwa itu semua akan membawa pada kebahagiaan. Yang menjadi salah adalah sikap asasi manusia atas semua hal itu. Ya, bagaimana manusia menyikapi semua itu lah yang akan membawa manusia pada persimpangan antara kebahagiaan semu dan kebahagiaan hakiki.

Dalam karyanya, Fawaaidul-Adzakaar*, Ibnul Qayyim al-Jauziyah menyebutkan bahwa ada tiga kondisi kebahagiaan manusia. Ketiga kondisi ini lah yang harus menjadi sikap asasi tiap insan dalam menyingkapi realita kehidupan dan dalam ikhtiarnya untuk menjemput kebahagiaan hakiki, di dunia dan terutama di akhirat.

Pertama, mensyukuri nikmat. Allah subhanahu wa ta’ala tiap waktunya selalu memberikan banyak nikmat serta anugrah-Nya pada kita semua. Keimanan, persaudaraan, rasa aman lagi tentram, kehidupan di dunia adalah nikmat-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala memberikan kepada kita semua nikmat-Nya secara cuma-cuma dan tak terbatas. Tak mungkin ada satu alat ukur pun yang mampu menghitung semua nikmat-Nya, apalagi untuk membalas semua. Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan sanggup menghitungnya (QS. 14: 34)

Namun, kadang ada di antara kita yang seringkali mengeluh terhadap nikmat yang belum dicukupkan oleh-Nya, padahal doa tak pernah henti. Maka, ketahuilah, dalam salah satu sabdanya: “(Doa) salah seorang diantara kalian pasti akan dikabulkan selagi ia tidak terburu-buru, dengan mengatakan; Aku telah berdoa, namun tidak kunjung dikabulkan.” (HR. Muttafaq ‘alaih)

Maka, pikirkan lah kutipan dari La Tahzan** karya Dr ‘Aidh al-Qarni berikut:

Adakah Anda ingin menukar mata Anda dengan emas sebesar gunung
Uhud, atau menjual pendengaran Anda seharga perak satu bukit? Apakah
Anda mau membeli istana-istana yang menjulang tinggi dengan lidah Anda,
hingga Anda bisu? Maukah Anda menukar kedua tangan Anda dengan
untaian mutiara, sementara tangan Anda buntung?

Begitulah, sebenarnya Anda berada dalam kenikmatan tiada tara dan
kesempumaan tubuh, tetapi Anda tidak menyadarinya. Anda tetap merasa
resah, suntuk, sedih, dan gelisash, meskipun Anda masih mempunyai nasi
hangat untuk disantap, air segar untuk diteguk, waktu yang tenang untuk
tidur pulas, dan kesehatan untuk terus berbuat.

Anda acapkali memikirkan sesuatu yang tidak ada, sehingga Anda
pun lupa mensyukuri yang sudah ada. Jiwa Anda mudah terguncang hanya
karena kerugian materi yang mendera. Padahal, sesungguhnya Anda masih
memegang kunci kebahagiaan, memiliki jembatan pengantar kebahagian,
karunia, kenikmatan, dan lain sebagainya. Maka pikirkan semua itu, dan
kemudian syukurilah!

Maka, pikirkan dan syukuri lah dengan tigal hal: mengakui segala nikmat secara batin, maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan? (QS. 55: 13); mengucapkannya secara zahir, dan terhadap ni´mat Tuhanmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (QS. 93: 11); dan menggunakan segala nikmat tersebut sesuai kendak Sang Pemberi Nikmat.

Kedua, sabar dalam ujian dan cobaan. Tiap waktu manusia selalu diuji oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Sebagaimana Allah menguji para Nabi dan Rasul dengan kedurhakaan umatnya, dengan penyakit, dengan kedzhaliman musuh.

Kita pun serupa, Allah menguji kita dengan kesempitan dan berbagai cobaan hidup. Bahkan, semua anugrah Allah pun sejatinya adalah sebuah ujian. Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai ujian (QS. 8:28).

Maka ketahui lah, bahwa Allah pasti akan selalu menguji tiap hambanya untuk sekedar mengetahui kapasitas keimanan. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (QS 29: 1).

Maka, ketahui lah bahwa Allah tidak pernah menguji kecuali pada batas kemampuan hamba-Nya. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya (QS. 2:286).

Dan ketahui lah, sebagaimana perkataan (alm) KH Rahmat Abdullah, waktu ujian itu tidak pernah lebih panjang daripada waktu hari belajar, tetapi banyak orang tak sabar menghadapi ujian, seakan sepanjang hanya ujian dan sedikit hari untuk belajar. Dan Allah, menguji kita agar kita terus belajar memperbaiki apa yang menurut Allah adalah kelemahan kita.

Maka, kunci dari setiap ujian dan cobaan adalah sabar. Sabar, sebagaimana dalam Fawaaidul-Adzakaar, adalah menahan diri dari sifat membenci atas takdir-Nya, menahan diri dari ungkapan keluh kesah, dan menahan anggota badan dari perbuatan maksiat seperti menampar pipi, mencabut rambut, dan sebagainya.

Jika seorang hamba telah berhasil lulus dari ujian dan cobaan dengan kesabaran, maka ujian dan cobaan yang dialaminya akan menjadi anugrah dari Allah subhanahu wa ta’ala. Dan sungguh akan Kami berikan ujian kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar (QS. 2:155)

Ketiga, taubat dari setiap dosa. Setiap manusia pasti tidak akan pernah luput dari khilaf dan salah. Kita bukan lah Sang Nabi yang maksum, yang terbebas dari dosa. Andai kamu tidak lagi melakukan dosa, maka Allah akan menggantikan kamu dengan kaum yang lain yang akan melakukan dosa, lantas meminta ampunan kepada Allah dan Allah akan mengampuninya (HR Muslim).

Rasa-rasanya benar adanya perkataan ulama: sesungguhnya seorang hamba terkadang melakukan dosa yang menyebabkan ia dimasukkan surga, dan melakukan amal baik yang menyebabkan ia dimasukkan neraka. Ya, dimasukkan ke surga karena taubat atas segala dosa dan dimasukkan ke neraka atas kesombongan dari tiap kebaikan yang ia lakukan.

Di situ lah kuncinya, taubat. Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya. (QS. 66:8). Kuncinya ada empat: menyesali segala kesahalannya, memohon ampunan, berjanji untuk tidak mengulanginya, dan menutupi dengan perbuatan-perbuatan baik. Tuhanmu telah menetapkan atas diriNya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barangsiapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya, dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 6:54)

Rasul juga mengajarkan pada kita tentang sebuah istighfar pamungkas, sayyidul istighfar.

Allahumma anta rabbi laa ilaha illa anta kholaqtani wa ana ‘abduka wa ana ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mastatho’tu a’udzubika min syarri ma shona’tu abu-u laka bini’matika ‘alaiyya wa abu-u bidzanbi faghfirli fa innahu laa yaghfirudz-dzunuuba illa anta. (Ya Allah, Engkau adalah Rabbku. Tiada ilaha selain Engkau. Engkau telah menciptakan aku, dan aku adalah hambaMu dan aku selalu berusaha menepati ikrar dan janjiku kepadaMu dengan segenap kekuatan yang aku miliki. Aku berlindung kepadaMu dari keburukan perbuatanku. Aku mengakui betapa besar nikmat-nikmatMu yang tercurah kepadaku; dan aku tahu dan sadar betapa banyak dosa yang telah aku lakukan. Karenanya, ampunilah aku. Tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau).” (HR Bukhari)

Maka, jangan lah kita sekali-kali barputus ada dari rahmat dan ampunan Allah. Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. 39:53)

***************

Saudaraku, ini lah sumber kebahagiaan hakiki: syukur, sabar, dan taubat. Maka, mari sama-sama kita jembut kebahagiaan hakiki dengannya. Mari berbahagia!

Wisma Shalahuddin & Masjid Kampus UGM

12 Januari 2012

sofietisamashuri.blogspot.com

*Fawaidul –Adzakaar, dengan judul terjemahan Zikir cahaya kehidupan, penerbit: Gema Insani

**Pada bab “Pikirkan dan Syukurilah” halaman 3 buku La Tahzan, penerbit: Qisthi Press

Baca Selengkapnya.....

Senin, November 14, 2011

Dingin

Sering, dinginnya hari
Tak sedingin, dinginnya hati
Saat raga tak lagi menyapa
Saat jiwa hanya mendekap bayang rasa

Karena diam pertanda acuh
Jadi lebih baik marah
Atau sekedar meneteskan tangis kesedihan
Karena itu tanda perhatian

Seperti pengacuhan Muhammad dan Sahabat
Pada 3 Sahabat: Ka’ab, Hilal, dan Murarah
Selepas perang Tabuk, yang mereka tak ikut serta
Hingga 50 hari: tanpa kata, tanpa sapa

Engkau tahu, apa rasa dari pengacuhan?
Kemarilah, dan bayangkan
Ini bukan kata-ku
Tapi ini firman dari Allah-ku

Hingga apabila bumi menjadi sempit, bagi mereka
Padahal bumi itu luasnya tiada tara
Terasa sempit pula jiwa serta hati
Dan mereka tahu: tak ada tempat melarikan diri

Maka, berlarilah ke puncak tertinggi
Bahkan everest pun harus kau daki
Agar kau tahu, dinginnya sikap dan hubungan
Jauh lebih menusuk, mematikan!

Jadi, akankah cinta
Hanya kan sekedar menjadi kata
Atau pemanis dalam tiap puisi
Atau bahkan hanya sekedar teori

?



Untuk setiap jiwa yang merasa teracuhkan
Oleh komunitas, kawan, atau pasangan
Saat makin dinginnya cuaca jogja,
Makin dingin pula mereka & dia


Graha XL, 10 November 2011,11.18
sofietisa.blogspot.com
Baca Selengkapnya.....

Senin, November 07, 2011

Syair Kemenangan

Kita melangkah,
Berlari secepat yang kita bisa
Melewati jalan, ujungnya tak tampak
Tapi kita tetap percaya, yakin pada satu asa:
Ada cahaya kemenangan di ujung sana

Seperti kala Muhammad berkata, lantang,
"Allahu Akbar, aku telah diberi kunci Syam
Demi Allah, aku melihat istana merahnya sekarang"
Sementara, musuh siap menerkam di seberang
Dan laparnya hanya ditahan dengan ganjalan kerikil

Dan kita percaya pada firman Tuhan
"Bersama kesulitan, pasti ada kemudahan"
Ya, peluhnya perjuangan hari ini,
Akan terbayarkan lunas dengannya:
Takdir kemenangan esok hari

Dan kita juga percaya,
Pada semua cerita sejarah anak manusia
Tak pernah akan ada kemenangan, tanpa pengorbanan
Tiap keringat, darah dan air mata yang tertumpah ke bumi
Pasti akan menjadi penebus sebuah kemenangan

Maka, di penghujung jalan panjang kita,
"Tatkala datang pertolongan Allah dan kemenangan"
"Bertasbih dengan memuji-Nya dan mohonlah ampun pada-Nya"
Semoga Allah memberikan keteguhan iman dan kekokohan fisik
Dan berkenan mempertemukan hasrat kita dan takdirNya: kemenangan!


Graha XL, 7 November 2011, 16.14
sofietisamashuri.blogspot.com


Baca Selengkapnya.....

Kamis, November 03, 2011

Jakarta Kita

Bukan gunung-gunung tinggi, menjulang
Bukan pula hijaunya kebun-kebuh teh
Atau sawah ladang yang semakin menguning
Apalagi gemericik bunyi air terjun, indah

Tapi tentang sebuah titik di bumi kita
Tempat segala rasa beradu-padu
Cerita: suka, duka, cita, dan... cinta
Yang membawa gelora tuk selalu maju

Dimana kita kan selalu begitu
Menantang zaman yang makin tak toleran
Melihat acuh dan tak pedulinya para individu
Sembari melawan keras dan pahitnya peradaban

Akankah kita masih diizinkan bertemu
Dengan nuansa dan pesonanya, kelak
Maka, yang kuharap hanyalah satu
Semoga setelah hari ini kan ada hari esok

Karena, aku kan segera kesana
Kembali membawa segengam asa
Mengejar bisik kemenangan yang makin membahana
Menjemput takdir sejarah dari Yang Maha Kuasa

Dengan izin Tuhan-ku, esok ku kan tiba
Di sana, di Jakarta kita



Graha XL, 3 November 2011, 10.20
Sofietisamashuri.blogspot.com
Baca Selengkapnya.....

Jumat, Oktober 21, 2011

Mengikhtiarkan Keajaiban

“Jika ini adalah ketetapan dari Allah, maka pergilah, karena Allah tak akan pernah menyia-nyiakan hamba-Nya”. Dengan hati yang mantap, Hajar mengakhiri tanya-nya pada Ibrahim alaihis salam. Maka, berlalu lah Ibrahim alaihis salam meninggalkan Hajar dan Ismail kecil di sebuah lembah tandus tak bertuan, Mekkah.

Waktu terus berlalu, sementara perbekalan telah habis dan Ismail kecil terus menangis karena dahaga dan laparnya. Di sebuah lembah tandus seperti Mekkah saat itu, rasa-rasanya mustahil menemukan air serta sumber penghidupan lainnya. Tapi, bagi Hajar, selagi masih ada Allah, maka (sekali lagi), Allah tak akan pernah menyia-nyiakan hamba-Nya.

Pergilah hajar mencari air. Berlari ia, dari bukit Shafa hingga bukit Marwa. Lalu, kembali dari bukit Marwa ke bukit Shafa. Begitu terus ia lakukan, berlari dari Shafa menuju Marwa dan kembali hingga tujuh kali ia lakukan itu tanpa henti. Namun, tak ada yang ia dapatkan. Tidak air, tidak pula makanan.

Berhenti Hajar di titik kepayahannya. Hingga Ismail kecil menghentak-hentakkan kaki mungilnya ke tanah. Zam-Zam! Begitu bangsa Arab menggambarkan bunyi kaki yang dihentak-hentakkan. Maka, cerita selanjutnya adalah keajaiban. Dari tanah yang dihentakkan itu, seketika muncul lah mata air abadi. Hingga kini tiada pernah henti memancarkan airnya. Zam-zam!

*******

Fragmen kisah keluarga Ibrahim ini mengajarkan kita, minimal, satu hal: mengikhtiarkan keajaiban. Ya, karena keajaiban memang tidak akan pernah mungkin datang dengan sendirinya tanpa diikhtiarkan. Maka, dari kisah ini, dapat kita tarik kesimpulan bahwa setidaknya ada empat syarat agar Allah subhanahu wa ta’ala berkenan membukakan pintu keajaiban-Nya.

Pertama, ikhtiar.

Dalam sebuah kesempatan, (alm) KH Rahmat Abdullah mengomentari kisah keluarga Ibrahim ini. Tanya beliau, butuh berapa kali sih untuk memastikan bahwa sepanjang perjalanan antara bukit Shafa dan bukit Marwa itu tak ada air. Logikanya, hanya butuh dua sampai tiga kali untuk memastikan bahwa tidak ada air di sana. Tapi, Hajar melakukannya hingga tujuh kali bolak-balik hingga tak sanggup lagi ia melanjutkannya. Baginya, tujuh kali ini adalah bukti kesungguh-sungguhannya dalam ikhtiar. Dan ia ingin menunjukkan kesungguhan ikhtiarnya itu pada Allah.

Inilah ikhtiar sejati. Mastatha’tum min quwwah, dalam bahasa al Qur’an. Kekuatan yang semaksimal mungkin yang kita miliki.

Seorang Professor di Mesir suatu ketika mencoba menjelaskan makna kalimat mastatha’tum min quwwah kepada para mahasiwanya. Di ajak lah para mahasiswanya ke sebuah lapangan di siang hari Mesir yang terik. Lalu, Professor ini berlari mengitari lapangan. Berlari dan terus berlari, tanpa henti. Hingga akhirnya, Professor jatuh pingsan dalam larinya. Saat telah sadar dari pingsannya, professor mengatakan pada para mahasiswanya: “inilah mastatha’tum min quwwah!”

Mustahil bagi seorang montir memperbaiki sebuah mobil yang rusak tanpa ia menyentuh mobil itu. Bahkan, sesekali ia harus rela kotor sembari memperbaikinya dari kolong mobil yang sempit itu. Begitu pun, mustahil bagi kita mengharapkan datangnya keajaiban tanpa adanya ikhtiar untuk mencapainya. Dan, tak hanya ikhitiar biasa nan ala kadarnya, tapi ikhtiar yang luar biasa, mastatha’tum min quwwah!

Kedua, doa.

Doa itu, senjata kaum muslimin. Benar memang. Bahkan doa, menurut Nabi adalah pangkal dari segala ibadah. Tanpa doa, kita dimurkai Allah. Seperti sebuah istilah yang populer di kalangan kita: doa tanpa ikhtiar adalah bohong; ikhtiar tanpa doa adalah sombong.

Sombong, begitu manusia yang di setiap amalnya tanpa menyertakaan Allah. Manusia itu lemah dan memang sengaja diciptakan Allah begitu lemah. Sebabnya manusia butuh doa, aktualisasi kelemahannya di hadapan Tuhan. Allah lah yang Maha, sementara manusia sejatinya adalah tiada. Dan doa, adalah jembatan penghubung antara ke-Maha-an Allah dan ke-tidakMaha-an manusia.

Sejarah para Nabi dan Rasul adalah sejarah keajaiban doa. Musa diselamatkan dari otoritarianisme Fir’aun dengan doa. Ibrahim diselamatkan dari api Namrudz yang menyala-nyala dengan doa. Nuh, Shalih, Luth diselamatkan dari umatnya yang terlaknat dengan doa. Bahkan, Rasulullah diselamatkan dari derita perang Badar dengan “doa yang mengancam”: “Ya Allah, jika sekumpulan kaum muslimin ini binasa, maka tak kan ada lagi yang menyembah engkau di muka bumi ini”.

Ketiga, tawakkal.

Saat ikhtiar telah terlaksana. Saat doa pun telah terpanjatkan pada-Nya. Maka, tawakkal adalah selanjutnya. Menyerahkan semua hasil atas segala ikhtiar serta doa pada-Nya. Hanya pada-Nya. Biarkan Allah yang menilainya. Ikhlas kan Allah sebagai penentunya.

Serahkan semua pada Allah. Biarkan Allah yang menambal amal-amal yang tak sempurna. Biarkan Allah yang menuliskan akhir dari segala cerita kehidupan, tentang ikhtiar, tentang doa para hamba. “Dan hanya kapada Allah hendaklah kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”. (QS 5: 23)

Seperti jawaban seorang istri ulama yang ditanya setelah suaminya wafat, “Darimana engkau dan anak-anakmu bisa makan sepeninggal suamimu?”, “Semenjak aku mengenal suamiku, aku senantiasa melihatnya makan dan tidak melihatnya sebagai pemberi rezeki. Orang yang bisa makan pasti akan mati, sedang yang memberi rezeki tidak akan mati.” Atau seperti jawaban Hajar, “Allah tak akan pernah menyia-nyiakan hamba-Nya.”

Tawakkal, penyerahan total seorang hamba hanya kepada Allah. Bukan kepada siapa-siapa. Bukan pula kepada amalnya. Seolah-olah segala yang dimiliki sepenuhnya karena usahanya semata. Seperti Qarun, hingga hartanya dibenamkan ke perut bumi karena menyandarkan kepada amalnya semata. Maka, “Jika engkau ingin memiliki keperkasaan yang tiada pernah sirna,” kata Ibnu Athaillah, “Janganlah engkau bersandar pada keperkasaan yang bisa sirna.”

Keempat, berprasangka baik pada Allah.

Kita tidak pernah tahu skenario Allah. Dan memang kita tidak pernah ditugaskan untuk mencari tahu seperti apa skenario Allah itu. Maka, saat ikhtiar dan doa dirasa sempurna, serta tawakkalnya hanya pada-Nya, berbaik sangka lah pada setiap keputusan yang diberikan-Nya.

“Janganlah do'a yang lama dikabulkan padahal engkau telah meminta dengan sungguh-sungguh menjadikan engkau putus asa, karena Allah SWT pasti akan mengabulkan do'amu sesuai dengan kehendak-Nya bukan sesuai dengan keinginanmu dan pada waktu yang Dia kehendaki bukan pada waktu yang engkau inginkan”. Begitu ujar Ibnu Athaillah.

Berbaik sangka kepada Allah, seperti saat kita membaca kisah ini. Apa yang ada dibenak kita, seolah-olah prasangka kita mengatakan Allah tidak adil?

Alkisah, ada dua raja yang telah renta di dua kerajaan yang berbeda. Yang satu shalih lagi adil, yang satu jahat lagi dzhalim. Dan keduanya sama-sama diuji Allah dengan penyakit langka. Segala upaya telah dilakukan, agar raja shalih dan raja jahat dapat segera sembuh. Hingga suatu ketika, berkat usaha para pembantu dan tabib di negerinya, raja jahat ini akhirnya dapat sembuh seperti sedia kala. Sementara nasib sang raja shalih malah berkebalikan. Penyakitnya semakin menjadi-jadi dan diderita dalam jangka waktu yang sangat lama. Tak ada yang sanggup menyembuhkannya hingga tak tertolong lagi nyawanya.

Bagi saya dan Anda, kemungkinan kita akan berprasangka bahwa Allah sangat tidak adil. Begitu pun para malaikat pada kisah ini. Para malaikat mempertanyakan ini kepada Allah, mengapa Dia menyelamatkan raja satu padahal ia begitu jahat, begitu dzhalim pada rakyatnya, sementara Dia siksa raja yang lain padahal ia begitu shalih lagi adil pada rakyatnya.

Allah menjawab dengan sederhana, bahwa pada suatu ketika raja jahat pernah melakukan kebajikan, maka Dia balas di dunia dengan kesembuhan, agar tak ada lagi yang menghalanginya tuk masuk neraka. Sementara, pada suatu ketika raja shalih pernah melakukan keburukan, maka Dia balas dengan penyakit yang tak tersembuhkan, agar tak ada lagi yang menghalanginya tuk masuk surga.

Begitu lah, kita diajarkan untuk selalu berprasangka baik pada tiap keputusan-Nya terhadap amal, doa, dan tawakkal kita. Apa pun keputusannya. Baik, atau kah buruk. Karena, “Boleh jadi, kamu tidak menyukai sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi, kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS 2:216)

*******

Akhirnya, kita kali ini kembali belajar bahwa keajaiban bukan hanya hadiah langit yang diturunkan secara cuma-cuma. Tapi ia butuh ikhtiar dn doa, lalu diakhiri dengan tawakkal serta dibungkus dengan prasangka baik pada-Nya.

Maka, indah nian ungkapan Dr ‘Aid al Qarni dalam bukunya yang fenomenal, La tahzan, dan saya ingin menutup tulisan ini dengannya. “Tidak ada gembok yang tak bisa dibuka. Tidak ada simpul yang tak bisa dilepas. Tidak ada jarak yang jauh yang tidak bisa didekatkan. Dan tidak ada yang hilang yang tidak bisa ditemukan. Dan semua itu ada saatnya.”

Laa tai’asu min rouhillah! Jangan berputus asa dari rahmat Allah. Mari mengikhtiarkan keajaiban.


Wisma Shalahuddin
20 Oktober 2011, 21:19

sofietisa.co.cc


Baca Selengkapnya.....

Pesona

Aku tak tahu apakah pesonanya yang memikat
Atau mungkin akalku yang tak lagi di tempat
[Syair_Taman Orang-Orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu_Ibn Qayyim]

Naluri manusia itu bernama cinta. Maka, itu adalah fitrah manusia: mencintai dan dicintai. Dan cinta, hanya ada karena pesona. Ya, semua bentuk cinta, apapun definisi dan aktualisasinya, lahir karena pesona.

“Dakwah kita adalah cinta” begitu kata Hasan al Banna. Karena seruan kita adalah dengan cinta dan isinya pun adalah cinta. Hingga manusia mencintai dakwah kita yang penuh cinta: mereka terpesona.

Hingga logika dan akal manusia bertekuk lutut di hadapan pesona. Seperti jawaban Abu Bakar as Siddiq, “Bahkan jika lebih dari itu, aku pasti tetap akan percaya” saat mengomentari isra mi’raj Sang Nabi yang dinilai musthil saat itu. Ya, Abu Bakar begitu terpesona dengan kejujuran Sang Nabi, Al Amin.

Cinta lahir karena pesona. Dan pesona lahir karena apa?

Pesona lahir bukan karena keindahan fisik. Seperti sebuah sajak yang berkata, “Bukanlah titik yang menyebabkan tinta, tapi tinta lah yang mnenyebabkan titik. Bukan lah cantik yang menyebabkan cinta, tapi cinta lah yang menyebabkan segala sesuatu menjadi cantik.”

Ya, pesona itu seperti kharisma, yang lahir karena inner beauty. Dalam bahasa Islam, keindahan akhlak. Jadi, pesona lahir sebagai akumulasi keindahan akhlak seorang manusia. Dan Nabi adalah sebaik-baiknya manusia yang mempesona dan sebaik-baiknya pesona manusia.

Maka, benar adanya bahwa dakwah kita adalah cinta. Karena muatannya yang mempesona dan dibawa oleh manusia yang mempesona. Tak salah pada akhirnya, ungkapan “Pesona Islam tertutupi oleh keburukan kaumnya” menjadi begitu kontekstual saat ini.

Atau dalam arti sempit, cinta sejati juga lahir dari pesona, tapi bukan pesona fisik. Karena pesona fisik hanyalah “bonus” yang tidak pernah diharapkan oleh sang pecinta sejati. Dan benar, Islam mengajarkan bahwa menikahi itu karena ada empat pesona: pesona fisik, pesona harta, pesona nasab, dan pesona Agama. Dan pesona Agama adalah sebaik-baiknya alasan pernikahan. Dan inilah pesona sejati.

Pesona, sekali lagi, adalah akumulasi keindahan akhlak. Dan pesona itu hanya efek samping dari akhlak yang sempurna. Jadi, yang diikhtiarkan manusia adalah perbaikan akhlak. Dan biarkan pesona itu hadir secara alami.

Maka biarkan kita sejenak kembali
Menata iman, memperbaiki diri

Sebelum berangkat ke medan amal
Atau sebelum naik mimbar
Atau sebelum membacakan Ayat

Karena manusia itu butuh cinta
Dan cinta, kadang tak butuh kata
Karena cinta, hanya butuh pesona
Dan semoga kau: begitu mempesona


Wisma Shalahuddin
20 Oktober 2011, 22:56

sofietisa.co.cc


Baca Selengkapnya.....

Sabtu, Juli 02, 2011

Menjemput Kedewasaan

Akhir-akhir ini aku dihadapkan oleh berbagai macam kisah dan cerita kehidupan tentang ini: kedewasaan. berbicara tentang ini, bagiku, kedewasaan tidak selalu terkait dengan tingkat usia atau tingkat kematangan biologis seseorang. Walaupun, kadang proses pendewasaan berawal dari sana.

Kedewasaan bagiku sangat erat hubungannya dengan kebijaksanaan. Sementara kebijaksaan adalah proses yang matang dari sebuah kehidupan. Di sini lah tingkat usia berperan. Namun, bukan tingkat usia fisik sebagai penentunya, melainkan usia pengalaman hidup manusia. Karena memang, usia pengalaman seseorang tak selalu linier dengan usia fisiknya.

Banyak dari manusia yang panjang usia fisiknya, tapi singkat usia pengalamannya. Tak banyak hal yang ia dapat dari tiap fragmen hidupnya. Miskin pengalaman ia. “Apa artinya usia panjang namun tanpa isi, sehingga boleh jadi biografi kita kelak hanya berupa 3 baris kata yang dipahatkan di nisan kita: "Si Fulan lahir tanggal sekian-sekian, wafat tanggal sekian-sekian””, begitu tutur (Alm) KH Rahmat Abdullah dalam Untukmu Kader Dakwah-nya.

Sementara, banyak juga yang pendek usia hidupnya, namun sarat makna. Asy Syahidul Hayy “Sang Syahid yang Hidup”, Hasan Al Banna, hanya 43 tahun saja, namun itu sudah cukup untuk mengguncang dunia dengan pergerekan Islam paling legendaris hingga saat ini, Ikhwanul Muslimin. Atau tentang seorang pemuda, Soe Hok Gie. 27 Tahun, ia tutup sejarah hidupnya di puncak Mahameru sebagai salah satu tokok aktivis mahasiswa paling fenomenal dalam sejarah Republik ini.

Ya, usia pengalaman tak melulu beriningan dengan usia fisik. Pengalaman yang panjang seorang manusia akan membawa ia pada ilmu yang luas lagi dalam. Tapi ilmu hanyalah akan menjadi sebuah knowladge belaka. Karena, ilmu juga harus berwujud sebagai value, nilai kehidupan. Inilah alasan mengapa ilmu pengetahuan dan Islam tak pernah dapat dipisahkan. Kerena, keduanya bermuara pada nilai kehidupan.

Ilmu, saat ia berwujud sebagai value, akan mengantarkan pemiliknya pada hikmah, sesuatu yang jauh tersembunyi dalam sebuah ilmu. Hikmah inilah sebenarnya intisari dari seluruh ilmu yang ada di bumi. Ia adalah harta karun yang terpendam. Maka, tak salah, dalam salah satu hadist (walaupun sanadnya dha’if, namun kandungannya benar), Rasul bertutur tentang hikmah, “Hikmah adalah harta dari seorang mu’min, maka kapan ia mendapatkannya, dialah yang paling berhak memilikinya.”

Hikmah ini spesial. Dan memang hanya dikhususkan untuk mereka yang spesial (saja). Karena di sini lah hikmah itu berperan: membuka tabir-tabir Ilahi tentang kehidupan. Maka, seorang bijak dan dewasa adalah mereka yang telah mencapai maqom ma’rifat ini hingga mampu menyibak rahasia kehidupan.

Dari sini kita belajar bahwa, menggali dan terus menggali nilai-nilai kehidupan adalah satu-satunya jalan menuju kedewasaan. Kedewasaan bukan lah sesuatu yang given. Ia butuh kerja keras, kerja cerdas, dan kerja iman. Karena, kedewasaan (lagi-lagi) adalah proses dalam kawah candradimuka kehidupan dan aktualisasi bersama kapasitas fisik, akal, dan keimanan.

Maka, kedewasaan kita hari ini adalah buah dari upaya menaiki tangga-tangga dunia menuju maqam ma’rifat ini: menyibak tabir Ilahi, membuka rahasia dan nilai kehidupan. Hingga kita benar-benar menjadi seorang bijak, seorang dewasa, yaitu seperti mereka yang, kata Ibnul Khattab, bukan karena mampu memilih yang terbaik diantara kebaikan dan keburukan, namun karena mampu memilih yang terbaik diantara dua keburukan.

Gd JTETI UGM, 2 Juli 2011, 20:11 WIB

sofietisa.co.cc



Baca Selengkapnya.....

Selasa, Juni 28, 2011

Sebuah Tanya: Kisah Anak Ayam dan Sepasang Sepatu

Mitos nenek moyang kita ini memang unik: larangan lelaki Jawa menikahi perempuan Sunda, atau sebaliknya, larangan lelaki Sunda menikahi perempuan Jawa. Hasrat Prabu Hayam Wuruk, Raja Majapahit saat itu, untuk menikahi Putri Pajajaran, Dyah Pitaloka, konon menjadi asal muasal mitos ini.

Di Pesanggrahan Bubat, Negeri Majapahit, rombongan Raja Pajajaran, Prabu Linggabuana dan Putri Dyah Pitaloka beserta hulubalang Kerajaan Pajajaran yang telah menyambut lamaran Prabu Hayam Wuruk ini malah menemui hal sebaliknya. Pernikahan besar dua kerajaan Tanah Jawa ini malah dijadikan alat oleh Mahapahit Gadjah Mada untuk menekan Pajajaran agar tunduk Majapahit dengan Putri Dyah Pitaloka sebagai “tanda takluk”nya. Jelas, sebagai ksatria, Prabu Linggabuana tegas menolak. Maka terjadi lah pertempuran tak seimbang antara Majapahit dan Pajajaran yang kita kenal hingga kini sebagai perang bubat. Akibatnya, terbunuh lah Prabu Linggabuana dan Putri Dyah Pitaloka hingga muncul sumpah serapah, larangan pernikahan Jawa-Sunda.

Tapi, usut punya usut, yang menyebabkan perang bubat ini bukan lah karena motif dan intrik politik Sang Mahapatih, namun karena ricuhnya pergelaran tradisi pernikahan saat itu: adu tebak-tebakan. Ya, adu tebak-tebak saat itu seperti adu pantun dalam tradisi pernikahan Betawi kini. Prosesi ini menuju klimaksnya saat keduanya saling melontarkan pertanyaan yang tak terjawab.

Dari pihak Pajajaran melontarkan pertanyaan klasik: “Mana yang lebih dahulu ada, ayam atau telur?”. “Anak ayam pasti keluar dari telur dan telur pasti keluar dari ayam”, bingung Majapahit menjawab. Menyerah lah mereka. Namun, Majapahit tak patah arang. Dibalas lah dengan satu tebakan mematikan: “Sebenarnya, sepatu itu melindungi atau melukai?”. “Sepatu menjanjikan perlindungan kaki. Tapi, jika melindungi, mengapa sepatu butuh kaos kaki agar sepatu tak melukai kaki?”

Tak mampu berbicara Pajajaran. Hanya riuh yang ada. Dan, seperti akhir kisah berbagai konser dangdut di Negeri ini, riuh berubah jadi ricuh. Maka, ricuh berulah hingga menjadi perang. Memang seperti itu, perang besar sering bermula dari hal sepele. Seperti 40 tahun lamanya perang Dahis dan Gambra, hanya bermula karena kecurangan dalam suatu pacuan kuda.

Rasa-rasanya memang seperti itu. Banyak kerusakan besar di dunia ini bermula dari (hanya) sebuah hal kecil. Termasuk bermula dari sebuah pertanyaan yang tak perlu dipertanyakan. Maka, perang bubat adalah buktinya.

Ah, ada-ada saja.

*********

Berbicara tentang Islam, maka kita tidak berbicara tentang logika manusia. Melainkan, kita harus berbicara tentang logika iman, logika Tuhan.

Ada banyak hal dalam Agama ini yang tidak perlu, bahkan tak boleh dipertanyakan. Bukan karena sebuah larangan mempertanyakan, namun lebih karena kapasitas yang terbatas. Benar, kapasitas manusia itu sangat terbatas. Logika manusia tak akan pernah mampu membuka tabir logika iman, logika Tuhan.

“Seandainya Agama itu semata-mata (hanya) menggunakan logika manusia,” ujar Ali karamallahu wajhah menggambarkan tentang terbatasnya logika manusia, “maka seharusnya yang diusap (saat berwudhu) adalah bagian bawah sepatu ketimbang bagian atasnya."

Atau seperti ucap Ibn Khattab radhiyallahu anhu saat hendak mencium Hajar Aswad, “Sesungguhnya aku tahu bahwa kamu adalah batu yang tidak mendatangkan bahaya dan memberi manfaat, kalaulah bukan karena aku pernah melihat Rosululloh shalallahu alaihi wassalam menciummu niscaya aku tak akan menciummu.”

Maka benar apa yang pernah Rasul shalallahu alaihi wassalam sabdakan, “Berfikirlah tentang nikmat-nikmat Allah dan jangan sekali-sekali engkau berfikir tentang dzat Allah.” Karena memang seperti itu adanya. Sering, ujung dari sebuah pertanyaan yang tak perlu dipertanyakan adalah kerusakan besar.

Dan, berbicara tentang pertanyaan yang tak perlu dipertanyakan dalam Agama ini adalah mempertanyakan segala keputusan Allah subhanahu wa ta’ala. Mempertanyakan tiap takdir Allah yang kadang tak sesuai asa manusia.

Hari ini, banyak manusia mengeluh. Merasa dunia ini tak adil. Mempersangkakan takdir dengan prasangka negatif. Dan bahkan menyalahkan takdir, menyalahkan Tuhan. Seolah-olah, Tuhan adalah terdakwa atas semua ketetapan yang Dia buat dan manusia adalah korbannya. Dalam benak manusia macam ini, takdir Tuhan terasa sangat kejam. Na’udzubillahi min dzalik.

Kita tak pernah tahu takdir Allah itu akan seperti apa. Dan, memang tugas kita bukanlah untuk mencari tahu takdir Allah itu. Karena memang bertanya atau bahkan mempertanyakan takdir Allah adalah hal yang sia-sia.

Maka, cukuplah tugas manusia, seperti nasihat Ibnu Atha’illah dalam kitabnya Al Hikmah, adalah “Janganlah do'a yang lama dikabulkan padahal engkau telah meminta dengan sungguh-sungguh menjadikan engkau putus asa, karena Allah subhanahu wa ta'ala pasti akan mengabulkan do'amu sesuai dengan kehendak-Nya bukan sesuai dengan keinginanmu dan pada waktu yang Dia kehendaki bukan pada waktu yang engkau inginkan”

Dahulu, kita diajari tentang dua tugas manusia: berdoa dan berikhtiar. “Berdoa tanpa berikhtiar adalah bohong, berikhtiar tanpa berdoa adalah sombong”, begitu yang diajarkan. Ikhtiar adalah senjata sementara doa adalah perisainya. Dan tawakkal, adalah penutup keduanya.

Kini, kita harus mengupayakan satu hal lagi agar itu menjadi sempurna: berbaik sangka pada Allah subhanahu wa ta’ala. Karena boleh jadi, asa kita belum Allah tautkan dengan takdirNya. Maka sebaik-baiknya perkataan adalah “Aku tidak tahu ini musibah atau anugrah, yang aku tahu hanyalah berbaik sangka terhadap Allah ta’ala.”


Gd JTETI UGM & Wisma Shalahuddin
27 Juni 2011, 22:56
sofietisa.co.cc
Baca Selengkapnya.....

Kamis, Juni 16, 2011

Mereka Yang Terluka Karena Cinta

Apabila cinta memanggilmu
Ikutilah dia, walau jalannya terjal berliku
Dan apabila sayapnya merangkummu
Pasrahlah serta menyerah,
Walau pedang tersembunyi di sela sayapnya itu melukaimu
Dan jika dia bicara padamu, percayalah
walau ucapannya membuyarkan mimpimu
bagai angin utara mengobrak-abrik pertamanan
[Kahlil Gibran]

Apik Gibran menggambarkan tentang cinta. Ya, cinta memang selalu mendua. Ia sanggup membumbungkan sang pecinta jauh ke puncak langit. Namun, ia juga tak segan melempar kembali sang pencinta, hingga jatuh ke bumi, tersungkur, lalu mati.

“Begitulah cinta, deritanya tiada akhir”, kata Panglima Tian Feng, si Ti Pat Kai dalam serial Kera Sakti. Atau, seperti ibn Qayyim pernah berujar, “Sungguh menderita orang yang mencinta, jika jauh menangis karena ingin bertemu, jika dekat menangis karena takut berpisah.”

Ah, rasa-rasanya cinta memang selalu seperti itu, sejak dulu. Kisah Layla Majnun menjadi kisah cinta paling dramatis dalam sejarah cinta umat manusia. Romeo dan Juliet juga serupa. Bahkan sayap-sayap cinta Gibran sendiri pun akhirnya patah jua. Cintanya, Selma Karami, terpaksa menikah dengan uskup yang lalim hingga pada akhirnya Selma Karami mati bersama bayi yang baru dilahirkannya.

Berhati-hatilah dalam mencintai. Begitu pesan sang bijak. Karena, saat jiwa raga memutuskan untuk mencinta, maka ia harus siap untuk bertanggung jawab atas semua kemungkinan resiko yang akan terjadi. Mungkin cinta akan membuat bahagia hingga seolah-olah kau sedang hidup abadi di surga. Mungkin juga cinta akan membuatmu terluka lagi menderita.

Cinta memang tak pernah pilih kasih. Ia hempas semua hati yang dilalui gelombangnya. Dahsyat hempasannya. Bagi mereka yang tak siap dan memang tak pernah menyiapkan diri, tunggulah. Pasti cinta akan mengkaramkan jiwanya.

Atau, saat cinta pergi. Seolah-olah mencerabut paksa akar yang telah menghujam kokoh di tanah dimana cinta tumbuh. Dan, anestesi apapun tak akan mampu meredam rasa luka saat dan setelah cinta pergi.

Tak ada obat bagi mereka yang terluka karena cinta. Entah karena jatuh cinta, memendam cinta, putus cinta atau bahkan merayakan cinta. Dan memang tak akan pernah ada obatnya.

Catatan cinta semua anak manusia harus diresapi menjadi hikmah. Karena luka, adalah konsekuensi pecinta. Maka, belajar dari mereka yang terluka karena cinta adalah sebaik-baiknya jalan yang ditempuh. Sembari mengokohkan cinta padaNya agar cahayaNya menuntun kita yang dibutakan oleh cinta. Terakhir, terhadap cinta, maka berhati-hati lah.


Gd JTETI UGM, 16 Juli 2011, 15:17


sofietisa.co.cc
Baca Selengkapnya.....

Kamis, Mei 19, 2011

Manusia, Cinta, dan Takdir Tuhan

Cinta adalah bahasa paling primitif dalam sejarah hidup manusia. Cinta ada sejak manusia pertama ada. Adam dan Hawa saling mencinta. Hingga turun ke bumi dengan cinta. Lalu terpisah, hingga kembali disatukan di Jabal Rahmah, Bukit Cinta.

Cinta dan manusia, seperti langit dan bumi. Langit cinta melindungi bumi manusia dengan kasih sayang. Begitulah cinta dan manusia sejak dulu. Tak ada cinta tanpa manusia. Tak ada manusia tanpa cinta.

Cinta dan manusia. Hanya ada satu yang membatasinya. Seperti ada tabir tak tampak antara keduanya. Logika cinta dan logika manusia, tak mampu menerawang tabir ini. Ialah takdir Tuhan, skenario lakon antara cinta dan manusia.

Takdir Tuhan lah yang membuat cinta begitu misterius. Hadir dalam bentuk dan waktu yang tak pernah terduga. Tiba-tiba saja, cinta memenuhi hati, merasuki jiwa. Tiba-tiba saja manusia terbuai cinta yang begitu memabukkan. Takdir Tuhan pula lah yang membuat cinta lenyap seketika. Pergi entah kemana dari diri manusia.

Takdir Tuhan inilah yang membuat pilihan manusia untuk mencinta hanya tinggal dua: destruktif dan konstruktif. Seperti gambaran pilihan manusia terhadap hidup dan matinya: fa’alhamaha fujuraha wa taqwaha, maka kami ilhamkan pada jiwa manusia: kefasikan dan ketakwaan. Inilah pilihan manusia atas efek cinta.

Cinta menjadi destruktif. Seperti kisah Qais yang menjadi majnun, gila, karena cintanya terbentur takdir Tuhan. Begitu dramatis, Syaikh Nizami menggambarkan kisah cinta yang mendustruktifkan Qais yang terpisahkan oleh yang dicinta, Layla. Hingga Qais gila dan mati dalam kegilaan.

Atau, seperti berita dewasa ini yang begitu memilukan. Bunuh diri karena gagal cinta. Seperti begitu murah harga sebuah nyawa. Hingga nyawa tak berarti lagi hanya karena cinta.

Cinta menjadi konstruktif. Seperti cerita cinta Muhammad dan Khadijah. Saat takdir Tuhan memisahkan mereka berdua di dunia, Muhammad tak lantas gila seraya menyerah kalah. Ya, itu memang menjadi hari yang sangat menyedihkan bagi Sang Nabi hingga terbersit untuk enggan melanjutkan cintanya dengan wanita lain. Tapi, Muhammad bangkit hingga kisah cintanya selalu mempesona dunia hingga kini dan nanti.

Cinta yang konstruktif adalah hak bagi manusia biasa yang memaknai cinta dengan cara yang luar biasa. Terhadap cinta, mereka tak pernah mengutuki takdir Tuhan sembari membunuh masa depan. Mereka tegar terhadap semua kehendak Tuhan atas cintanya.

Sekali lagi, takdir Tuhan adalah skenario paling apik dalam panggung cinta manusia. Satu saat, dalam sebuah fragmen perjalanan cinta manusia, cinta hadir. Dalam fragmennya yang lain, cinta pergi. Hadir dan perginya cinta adalah takdir Tuhan. Sementara pilihan manusia atas cinta: destruktif atau konstruktif, adalah cerita yang manusia buat sendiri.

Wisma Shalahuddin, 19 Mei 2011, 15:37

sofietisa.co.cc
Baca Selengkapnya.....

Sabtu, Mei 14, 2011

SANG PENCERAH GUNUNG MERAPI

Penampilannya sederhana nan bersahaja. Ditengah ketaksempurnaan fisiknya, ia tetap beraktivitas seperti biasa, bahkan luar biasa. Prestasi dan karyanya begitu mempesona, begitu mencerahkan. Ahmad Tukiran Maulana adalah sosok inspiratif kita hari ini.

Ahmad Tukiran Maulana atau akrab dengan sapaan Mas Maulana, dikenal sebagai da’i keliling kesehariannya. Penjaga moral Jogja adalah profesinya. Penggiat aktivitas pengajian merupakan rutinitasnya. Dan, hari ini kita coba mengenal tokoh kita ini dalam aktivitasnya yang berbeda: relawan kemanusiaan.

Perkenalan penulis dengan beliau sebagai relawan kemanusiaan adalah saat terjadi tanah longsor di Karang Anyar tahun 2007 silam. Beliau bersama UKM dimana saya beraktivitas (Jama’ah Shalahuddin UGM) berpartisipasi dalam rangakain kegiatan bakti sosial.

Sebelum saya berkuliah di UGM pun, menurut penuturan subjek langsung, beliau juga aktif sebagai relawan saat Gempa Bantul 2006. Dan gempa Padang setahun lalu pun menjadi saksi naluri kemanusiaanya. Bukan hanya doa dan dana, tak ragu ia terbang ke Padang, mengabdi selama sebulan dalam aktivitasnya sebagai relawan.

Bau anyir darah dan busuknya jenazah tak lagi membuatnya mundur. Kurangnya dana serta minimnya sarana tak membuat semangatnya mengendur. Sendiri maupun bersama, akan tetap seorang Ahmad Tukiran Maulana jalankan sebagai relawan.

Merapi 2010 kembali bergemuruh sebagai rutinitas tahunannya. Namun kali ini ia bergemuruh hebat. Jauh melebihi aktivitasnya dalam puluhan tahun terakhir. Dan Ahmad Tukiran Maulana kembali terpanggil. Dan Merapi menjadi arena aktualisasi rasa kemanusiaanya.

Saat erupsi Gunung Merapi terjadi, beliau menjadi relawan di barak-barak pengungsian. Apalagi, sejak puncak erupsi Merapi yang mengharuskan para warga di sekitar Gunung Merapi untuk mengungsi jauh dari tempat dimana mereka biasa tinggal. Seorang Ahmad Tukiran Maulana menjadi salah satu yang terdepan.

Dengan dipusatkannya para pengungsi di Stadion Maguwoharjo Sleman, Beliau mencurahkan segala aktivitas hidupnya di sana. Beliau lah yang menginisasi pembangunan musholla darurat pertama di Stadion Maguwoharjo. Beliau mencari dana, sumber daya manusia, maupun kebutuhan material lainnya untuk membangun tempat ibadah yang amat asasi itu.

Di sana lah beliau jaga semangat spiritualitas para korban. Rasa frustasi dan buruk sangka pada takdir Tuhan, beliau coba hapuskan dari benak tiap korban. Beliau sambangi satu per satu titik pengungsian. Silaturahim dan mengajak pada kebaikan. Mengingatkan mereka untuk kembali pada Tuhan dan nilai-nilai Agama.

Pengabdiannya bukan hanya saat erupsi Merapi 7 bulan lalu, namun konsisten hingga kini, masa recovery. Masa recovery adalah masa yang sulit. Media sudah tak lagi giat meliputnya sementara relawan serta bantuan sudah sangat jauh menurun jumlahnya. Padahal, masa recovery pasca erupsi Merapi adalah masa paling penting dalam pemulihan kondisi para korban. Dan Ahmad Tukiran Maulana kembali membuktikan komitmen dan konsitensinya.

Saat masa recovery, seluruh aktivitasnya dihabiskan di shelter-shelter yang tersebar di berbagai lokasi. Jarang beliau dapat ditemui di kampus UGM dan sekitarnya saat ini dimana dulu kesehariannya beliau habiskan di sana. Di lereng Merapi lah beliau kini menghabiskan waktunya. Hanya sesekali beliau “turun”. Itupun mayoritas hanya dilakukan dalam aktivitasnya sebagai seorang relawan.

Dilakukannya aktivitas yang jarang dilakukan oleh relawan lain. Sederhana memang, tapi sangat mengena: mengingatkan para korban untuk kembali pada Tuhan, menyeru untuk selalu beribadah, mendirikan tempat ibadah dan memakmurkannya, menjadi mubaligh, silaturahim dari satu rumah ke rumah lainnya sembari mengajak kembali pada spritualisme. Dibuatnya tulisan bahkan spanduk untuk menyempurkan ajakannya secara lisan.

Di sana beliau juga dirikan tempat ibadah walau hanya seadanya. Namun dengan seadanya inilah, nilai-nilai spiritualitas dan motivasi korban dijaganya. Beliau ingatkan semua agar mengingat Tuhan dan ajaran Agama. Ahmad Tukiran Maulana lah yang pertama azan dengan lantunan yang merasuk ke hati. Beliau pula yang pertama menjadi imam. Tausiahnya menjadi pelengkap keseharian korban.

Tak hanya kepada komunitas Muslim, beliau pun mengajak komunitas non Muslim pada nilai spiritualisme sesuai ajaran dan kepercayaan masing-masing. Beliau motivitasi dan ajak seluruh korban agar kembali menjalani kehidupan dengan semangat dan spirit yang terbarukan. Tanpa mengenal siapa dan apa latarbelakang mereka.

Tak hanya dilakukan secara individu, ia juga ajak banyak relasinya untuk berpartisipasi membantu aktivitasnya hingga akhirnya banyak yang tertarik mengambil bagian. Hingga nilai kemanusiaan tak hanya ada pada dirinya seorang.

Sementara itu, santun, sopan, ramah, dan dari hati ke hati adalah bahasa seruannya. Akhlak Islam dan kultur Jawa menyempurnakan kehalusan budi serta tuturnya. Inilah yang mampu membuka hati mereka yang memang butuh perhatian dan spirit. . Dan yang terpenting adalah semua ini dilakukan tanpa pamrih bahkan untuk menjalankan aktivitasnya tak segan-segan ia cari dana sendiri: bekerjasama dengan relasi hingga berjualan majalah dan kalender.

Akhirnya, semua ini memberikan nilai yang khas serta karya yang sangat bermanfaat dalam upaya recovery pasca erupsi Merapi. Tak ayal, kini julukannya bertambah satu: Sunan Kali Gendol.

Ada sebuah pengakuan jujur dari seorang Yusuf Maulana dalam tulisannya berjudul Relawan Tanpa Batas yang menggambarkan sosok Ahmad Tukiran Maulana yang luar biasa. Berikut adalah petikannya.

Sepasang tangan dengan gesit menerima sodoran tubuh, lalu mengangkatnya ke dalam bangsal yang telah dipenuhi sesak tubuh-tubuh ringkih dan bau amis darah. Cekatan dan terampil, seakan pemilik tangan itu terbiasa menghadapi keadaan tanggap darurat.

Maka, pengabdian tanpa pamrih menjadi pekerjaan baginya. Entah dimintai orang lain atau atas dasar penawaran aktif dirinya. Bukan hanya saat gempa mengguncang Yogyakarta, Tukiran bergerak. Hari-hari sebelum dan sesudah gempa pun ia masih bergerak. Ia menjadi relawan yang tetap ada, selagi waktu sendiri masih ada.

Bahkan, masih menurut Yusuf Maulana. Tukiran menawar-nawarkan uang untuk dipinjami mahasiswa atau orang umum yang menurutnya patut dibantu. Pinjaman itu bukan investasi ekonomis untuk mendapat keuntungan bunga, galibnya para rentenir. Bagi yang mengenal Tukiran, sudah mafhum jika pinjamannya itu selain tidak berbunga juga bisa dilupakan alias tidak dibayar sama sekali. Dan, dengan ringan hati, Tukiran akan mengikhlaskan semua itu. Uang itu diperoleh Tukiran bukan dari mengemis, melainkan dari jerih payahnya memasarkan majalah-majalah Islam, selain honor atas kebaikan ia menjualkan barang-barang pihak lain seperti kalender Masjid Kampus UGM.

Seorang Sofyan Effendi (semasa menjabat Rektor UGM) hafal sosok Tukiran hingga memintanya untuk menjadi relawan UGM (meski bukan mahasiswa UGM) dalam gempa Yogya Mei 2006. Demikian pula pejabat daerah seperti Bupati Bantul mengenal nama Tukiran. Jika Rektor UGM saja kenal, bukan hal aneh tentunya jika Dekan Ilmu Sosial dan Politik kampus yang sama hafal sosok Tukiran.

Hingga ada sebuah anekdot dikalangan civitas akademika UGM tentang sosok yang satu ini: seorang mahasiswa UGM tidak akan diakui sebagai mahasiswa UGM jika ia tidak mengetahui 3 nama: Ngarsa Dalem, Rektor UGM, dan Ahmad Tukiran Maulana.

Begitu lah sosok Ahmad Tukiran Maulana yang begitu mempesona. Menjadi cahaya di tengah gelap dan suramnya Merapi. Tak salah kita sandangkan ini padanya: Sang Pencerah Gunung Merapi.



*Diajukan dalam EADC 2011 oleh Sofiet Isa Mashuri Setia Hati dan Fajar Marendra


Wisma Shalahuddin, Mei 2011
sofietisaco.cc
Baca Selengkapnya.....

Senin, Mei 09, 2011

Wanita Berjilbab Tapi Tingkah Lakunya Tidak Baik; Wanita Bertingkah Laku Baik Tapi Tidak Berjilbab. Pilih Mana?

Semalam, di salah satu forum halaqah, ada sebuah pertanyaan menarik: "Mana yang lebih baik apakah menuntut ilmu tapi tersesat atau tidak menuntut ilmu sehingga tidak tersesat." Sesaat setelah pernyataan itu dilontarkan, saya teringat sebuah pertanyaan. Seperti pada judul tulisan ala kadarnya ini: "Pilih mana, wanita berjilbab tapi tingkah lakunya tidak baik atau wanita bertingkah laku baik tapi tidak berjilbab."

Mencoba mengamati pertanyaan ini, saya mengkategorikan pertanyaan ini pada wilayah pilihan. Atau bahkan layak dimasukkan ke ranah fatwa sehingga kapasitas saya tidak mumpuni untuk menjawabnya. Namun, dengan ilmu saya yang pas-pasan ini, saya coba analisis pertanyaan ini dalam perspektif saya yang cukup dan memang nyeleneh ini.

Okey. Bagi saya, pada pertanyaan ini, ada kesalahan logika dan penempatan di ruang waktu. Maka setidaknya ada dua kesalahan pada pertanyaan ini.

Pertama, pertanyaan ini jika dirampung akan menjadi, kira-kira, begini: pilih mana “kesalahan pertama” atau kesalahan kedua”. Tingkah laku yang tidak baik adalah kesalahan pertama, sementara tidak berjilbab adalah kesalahan kedua. Dan baik yang bertanya maupun ditanya pasti tahu bahwa mereka diminta memilih salah satu diantara dua kesalahan.

Logikanya, jika kita tahu ada sebuah kesalahan, otomatis kita juga pasti tahu apa yang seharusnya menjadi kebenaran. Kita tahu ini salah karena kita tahu yang benar adalah itu. Jadi, dalam konteks pertanyaan tadi, kita tahu yang benar adalah wanita berjilbab dan berkelakuan baik.

Lalu, untuk apa kita memilih hal yang salah saat kita tahu hal itu salah, sementara kita tidak memilih yang benar. Jadi, pertanyaan ini pasti akan dijawab hanya dengan satu jawaban di luar pilihan: wanita berjilbab dan bertingkah laku baik. Just it. No other choice.

Kesalahan logika pertanyaan ini menurut saya setipe dengan kesalahan logika pertanyaan: “Mampukah Tuhan menciptakan sebuah batu yang tidak mampu diangkatnya,” Pada pertanyaan ini, di satu sisinya mengakui keMaha-Kuasaan Tuhan, tapi di sisi lain mengakui bahwa Tuhan tidak Maha Kuasa. Menjadi berlawanan seperti ini karena pertanyaan ini sejatinya adalah dua pertanyaan yang dipaksa untuk disatukan: “Apakah Tuhan mampu menciptakan batu?” dan “Apakah Tuhan tidak mampu mengangkat batu?” Sehingga logika yang sehat pasti akan menjawab: “Tuhan mampu menciptakan batu dan tidak ada satu pun batu yang tidak dapat diangkatNya. Just it. No other choice.

Kedua, pertanyaan ini ditanyakan saat penanya berada dalam watu yang salah: dia tidak sedang dituntut untuk memilih dan pilihan yang benar (tapi tidak menjadi opsi pilihan) masih eksis saat ini. Jadi, untuk apa menanyakan sesuatu yang tidak akan benar-benar dilaksanakan. Dan memang sepertinya kita tidak sedang benar-benar dituntut untuk memilih. Sementara itu, pilihan yang baik masih eksis. Dan lagi-lagi kenapa harus memilih salah satu dari dua kesalahan padahal masih ada yanb baik.

Konteks pertanyaan ini sama dengan konteks pertanyaan: “Jika berada di bulan, kita shalat harus menghadap mana?” Padahal kita tidak sedang berada di bulan dan memang tidak ada niat untuk pergi ke bulan. Jadi, untuk apa menanyakan sesuatu yang tidak akan dipraktekkan. Atau pada pertanyaan: “Apa hukumnya mengkonsumsi daging mokolo-mbembe Kongo, Afrika?” Padahal masih ada opsi yang baik: ayam, kambing, sapi, atau unta.

Jadi, dengan dua kesalahan tersebut, pertanyaan: “Pilih mana, wanita berjilbab tapi tingkah lakunya tidak baik atau wanita bertingkah laku baik tapi tidak berjilbab” akan memiliki level kualitas yang sama dengan pertanyaan-pertanyaan berikut. “Mana yang lebih dahulu, ayam atau telur?”. “Apakah sepatu itu melindungi atau melukai? Kalau melindungi, kenapa ia butuh kaos kaki untuk agar tidak melukai kaki?” Atau bahkan pertanyaan “Apakah Nabi Adam alaihissalam memiliki pusar atau tidak? Padahal pusar itu hanya dimiliki oleh makhluk hidup berplasenta (mamlia) yang dilahirkan dalam rahim sementara Nabi Adam tidak dilahirkan.


Wisma Shalahiddin, 9 Mei 2011, 14:51

sofietisa.co.cc
Baca Selengkapnya.....

Jumat, Mei 06, 2011

LUPA JAMA’I

-Rame-rame lupa-


Semalam ada seorang sahabat curhat ke saya. Tapi demi menjaga kehormatan dan harga diri, kita sebut saja sahabat saya ini sebagai Bunga (bukan nama sebenarnya). Bunga, seorang aktivis sebuah lembaga di sebuah kampus ternama di jogja (saya tidak bilang kalo di UGM lho), bercerita.

Bunga dan beberapa temannya diamanahkan oleh pengurus harian di lembaganya untuk merancang format sebuah forum komunitas. Hari berganti hari, rampunglah amanah Bunga dan tim nya. Dikirimlah hasil berupa notulensi rapat ke salah seorang pengurus harian sebagai bentuk pelaporan.

Hari kembali berganti hari. Bunga kembali beraktivis seperti biasa. Hingga suatu ketika Bunga bertemu seorang temannya (bukan pengurus harian, tapi sama-sama aktivis di lembaga yang sama) dan seperti biasa terjadilah percakapan diantara mereka. Tiba-tiba sampail ah percapakan mereka pada topik tentang forum komunitas itu.

Perasaan sahabat saya ini tiba-tiba jadi nano-nano saat itu. Sedih, marah, kecewa, mangkel, illfeel, semua jadi satu. Karena ternyata, sudah diputuskan di rapat pengurus harian beberapa pekan sebelumnya bahwa forum komunitas bentuknya ini, arahannya ini, sturkturnya ini, dan pengurus-pengurusnya ini. Dan itu semua Bunga ketahui bukan dari pengurus harian, tapi dari orang lain. Dan yang membuat bunga lebih nano-nano lagi adalah itu semua diputuskan tanpa ada bunga dan tim di rapat pengurus harian.

Diklarifikasi, ternyata semua itu diputuskan hanya berdasar notulensi ala kadarnya itu, tanpa ada mereka disana. “Nggak OK banget sih caranya”, keluhnya. “Masa’ iya nggak ada satu pun yang inget kalo harusnya ada kami disana, karena tulisan nggak bisa ngewakilin manusia. Masa’ iya nggak ada yang inget untuk mengkomunikasikan ini ke kami” lanjut nya.

“Waduh!” komentarku, singkat.

**********

Setelah sahabat tadi meluapkan semua itu, tangan saya terasa gatal untuk segera mengomentari ini lebih lanjut dalam deretan kata. Komentar saya bukan tentang fenomena komunikasi yang kata Bunga tadi “nggak OK”. Bagi saya masalah komunikasi itu harusnya sudah lewat karena telekomunikasi kita sudah canggih. Tapi, komentar saya tentang satu fenomena unik: lupa jama’i (rame-rame lupa).

Ya, manusia itu makhluk yang sangat terbatas. Ya, manusia itu tempatnya lupa dan salah. Maka dari itu kita dianjurkan dalam Agama untuk hidup berjama’ah. Alasannya sederhana. Kalau kita lupa dan salah, ada orang lain yang mengingatkan. Tapi, dalam konteks cerita Bunga, bagaimana jadinya kalau dalam satu jama’ah itu, semuanya lupa dan tidak ada satu pun yang ingat (ya iya lah). Inilah yang saya maksud sebagai lupa jama’i.

Kemudian saya berfikir, kenapa ini bisa terjadi. Fikir demi fikir, saya teringat salah satu cerita di BLINK-nya Malcom Gladwell tentang penelitian respon semua penghuni apartemen saat salah satu penghuni apartemen berteriak meminta tolong. Yang menarik adalah semakin banyak penghuni apartemen yang ada, maka ada kecenderungan di masing-masing penghuni untuk semakin acuh, karena mengganggap tak perlu lah dia menolong karena dia yakin, pasti ada penghuni lain yang akan menolong.

Tapi sepertinya bukan di titik itu alasannya. Sampai kemudian ada wangsit yang datang ke saya. Kemungkinan yang menyebabkan lupa jama’i ini adalah karena faktor kedudukan dan kekuasaan. Kontekstualisasinya adalah anggota parlemen kita.

Banyak diantara anggota parlemen kita itu adalah orang baik. Dan husnudzhan saya, mayoritas mereka adalah orang baik. Tapi, saat mereka, yang baik ini, memikili kedudukan dan kekuasaan, tiba-tiba mereka sendiri lupa kalau mereka adalah orang baik. Dan njelalah, mereka lupa secara berjama’ah kalau mereka orang yang baik. Maka jadilah parlemen kita amburadul, tidak karuan.

Tiba-tiba mereka ini lupa semua kalau mereka adalah wakil rakyat. Yang namanya wakil itu, kalau kata Iwan Fals, seharusnya merakyat. Menjadi representasi rakyat yang istiqamah menderita. Tapi sialnya, mereka lupa semua. Jadilah anggota parlemen kita sepeti saat ini. Hobi plesiran ke luar negeri, suka bolos dari rapat paripurna dan sidang komisi. Sekalinya datang, malah tidur atau bahkan buka tablet sambil asyik nonton yang tidak-tidak. Nah lho!

Kembali ke cerita Bunga, tenyata nyambung. Pengurus harian di lembaga Bunga itu adalah representasi kedudukan dan kekuasaaan tertinggi dalam lembaganya. Dan karena kedudukan dan kekuasaan inilah yang kemungkinan besar membuat mereka rame-rame lupa.

Mencoba mancari hikmah, sepertinya kita harus kembali meresapi filosofi orang Jawa: ojo dumeh. Jangan mentang-mentang, kalau di-Indonesia-kan.

Jangan mentang-mentang sekarang jadi orang top, lalu jadi sombong dan angkuh. Padahal dulu, tiap hari makan di angkringan atau burjo. Lah mentang-mentang sekarang jadi orang, kalau tidak makan di tempat yang embel-embelnya resto ‘n cafe, jadi pura-pura masih kenyang.

Jangan mentang-mentang punya kekuasaan dan kedudukan, lalu semena-mena. Merasa yang punya hak adalah dia sementara yang lain hanya punya kewajiban. Lalu memutuskan ini dan itu, tanpa mempertimbangkan hati dan perasaan yang ada pada rakyat jelata.

Jangan mentang-mentang!



Wisma Shalahuddin, 6 Mei 2010, 09:36


sofietisa.co.cc
Baca Selengkapnya.....

Senin, Mei 02, 2011

Cinta dan Sesuatu Setelah Kata

Saying I love you
Is not the words I want to hear from you
It's not that I want you not to say
But if you only knew
How easy it would be to show me how you feel
More than words is all you have to do to make it real
Then you wouldn't have to say that you love me
Cos I'd already know
[More Than Word_Extreme/Westlife]

Cinta adalah ekspresi paling primitif manusia yang pernah ada. Cinta ada, sejak pertama kali manusia diciptakan. Manusia dan cinta, seperti kata dan makna. Tanpa cinta, manusia tak bermakna. Dan hari ini, kita akan berbicara tentang cinta.

Cinta adalah rasa. Ia hadir dalam gelora hati, gejolak jiwa. Cinta hadir seperti angin. Tak berwujud, tapi terasa energinya. Atau seperti al Qur’an yang menjelaskan, saat disebut namaNya yang kau cinta, bergetarlah hatimu karena dahsyatnya rasa. Atau seperti saat cinta menyapa, hatimu resah, jiwamu gundah.

Dalam cinta, kita butuh bahasa. Diekspresikan dalam kata. Inilah alasan mengapa kita tiba-tiba menjadi pujangga dadakan saat cinta bersemi hingga menjadi rasa di dada. Di sini lah kata menjadi bagian penting dalam seni mencinta.

Kata bukan sebuah gombal-isasi cinta. Tapi ia adalah ekspresi romantisme. Dan romantisme, adalah udara dunia bagi cinta. Romantisme lah yang membuat jantung mampu berdetak mengalirkan jingganya cinta. Hingga cinta menjadi energi yang dahsyat.

Tapi cinta tidak akan pernah benar-benar menjadi cinta, saat ia hanya berupa rasa dan kata. Cinta butuh integritas: realisasi dan aktualisasi. Seperti iman, cinta hadir dalam tiga dimensinya yang berbeda: rasa, kata, dan amal nyata.

Benar bahwa cinta butuh deklarasi. Seperti Sapardi pernah berucap: “Aku mencintaimu dengan sederhana.” Atau saat cinta hadir dalam deklarasinya yang indah: “Aku mencintaimu bukan karena paras cantikmu, tapi karena imanmu. Jika imanmu pudar, maka pudar lah jua cintaku padamu.”

Tapi, ada sesuatu setelah kata. Karena kata butuh amal, agar cinta menjadi nyata. Cinta butuh perwujudan dalam segala bentuknya yang berupa-rupa.

Cinta harus menjelma dalam pengorbanan. Berkorban dengan segala daya yang ada demi yang dicinta. Berkorban untuk selalu membahagiakan, walau kadang harus mengorbankan perasaan diri. Berkorban untuk mengubah bahasa, “ini salahmu!” menjadi “maafkan aku, Cinta”.

Cinta harus bermetamorfosis menjadi energi memberi dan sifat yang peka. Inilah cinta dalam bahasa perhatian, care. Karena acapkali cinta datang dalam sifat penuh perhatian hingga ia tumbuh dan berkembang dalam perhatian itu. Bahkan, marah dan cemburu adalah ekspresi perhatian dalam cinta. Tapi, mereka dibungkus dalam bahasa kasih sayang. Hingga semua itu berakhir pada cinta yang makin jingga.

Cinta harus berwujud dalam semua sifat kebaikan. Pengorbanan, perhatian, kejujuran, kesetian, tanggung jawab, dan segala bentuk kebaikan lainnya harus melekat dalam tiap cinta. Kebaikan itu dibungkus, satu paket dengan cinta. Karena cinta tak pernah dijual terpisah dengan itu semua.

Cinta itu bukan diam. Cinta butuh pembuktian. Dan pembuktian inilah sumber keabadian cinta. Atau, meminjam istilah Agama, janganlah para pencinta menjadi munafik dalam mencinta. Bilang cinta, tapi dusta. Mengaku cinta tapi ingkar. Mendeklarasikan cinta, tapi khianat.

Rasa-rasanya, lagu di atas, more than word, mampu menggambarkan kegelisahan tentang semua ini. Karena sering, ada duga dimana cinta hadir dan menyapa hanya dalam bahasa dan kata. Padahal, lebih dari sekedar kata, untuk mencinta.

Kita semua ingin mencintai hingga sempurna. Hingga satu saat dalam fragmen cinta kita, cinta tak butuh lagi kata. Hingga yang dicinta jujur berkata, you wouldn’t have to say that you love me, cos I’d already know.

Wisma Shalahuddin, May Day 2011, 20:37

sofietisa.co.cc
Baca Selengkapnya.....