Jumat, Oktober 21, 2011

Pesona

Aku tak tahu apakah pesonanya yang memikat
Atau mungkin akalku yang tak lagi di tempat
[Syair_Taman Orang-Orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu_Ibn Qayyim]

Naluri manusia itu bernama cinta. Maka, itu adalah fitrah manusia: mencintai dan dicintai. Dan cinta, hanya ada karena pesona. Ya, semua bentuk cinta, apapun definisi dan aktualisasinya, lahir karena pesona.

“Dakwah kita adalah cinta” begitu kata Hasan al Banna. Karena seruan kita adalah dengan cinta dan isinya pun adalah cinta. Hingga manusia mencintai dakwah kita yang penuh cinta: mereka terpesona.

Hingga logika dan akal manusia bertekuk lutut di hadapan pesona. Seperti jawaban Abu Bakar as Siddiq, “Bahkan jika lebih dari itu, aku pasti tetap akan percaya” saat mengomentari isra mi’raj Sang Nabi yang dinilai musthil saat itu. Ya, Abu Bakar begitu terpesona dengan kejujuran Sang Nabi, Al Amin.

Cinta lahir karena pesona. Dan pesona lahir karena apa?

Pesona lahir bukan karena keindahan fisik. Seperti sebuah sajak yang berkata, “Bukanlah titik yang menyebabkan tinta, tapi tinta lah yang mnenyebabkan titik. Bukan lah cantik yang menyebabkan cinta, tapi cinta lah yang menyebabkan segala sesuatu menjadi cantik.”

Ya, pesona itu seperti kharisma, yang lahir karena inner beauty. Dalam bahasa Islam, keindahan akhlak. Jadi, pesona lahir sebagai akumulasi keindahan akhlak seorang manusia. Dan Nabi adalah sebaik-baiknya manusia yang mempesona dan sebaik-baiknya pesona manusia.

Maka, benar adanya bahwa dakwah kita adalah cinta. Karena muatannya yang mempesona dan dibawa oleh manusia yang mempesona. Tak salah pada akhirnya, ungkapan “Pesona Islam tertutupi oleh keburukan kaumnya” menjadi begitu kontekstual saat ini.

Atau dalam arti sempit, cinta sejati juga lahir dari pesona, tapi bukan pesona fisik. Karena pesona fisik hanyalah “bonus” yang tidak pernah diharapkan oleh sang pecinta sejati. Dan benar, Islam mengajarkan bahwa menikahi itu karena ada empat pesona: pesona fisik, pesona harta, pesona nasab, dan pesona Agama. Dan pesona Agama adalah sebaik-baiknya alasan pernikahan. Dan inilah pesona sejati.

Pesona, sekali lagi, adalah akumulasi keindahan akhlak. Dan pesona itu hanya efek samping dari akhlak yang sempurna. Jadi, yang diikhtiarkan manusia adalah perbaikan akhlak. Dan biarkan pesona itu hadir secara alami.

Maka biarkan kita sejenak kembali
Menata iman, memperbaiki diri

Sebelum berangkat ke medan amal
Atau sebelum naik mimbar
Atau sebelum membacakan Ayat

Karena manusia itu butuh cinta
Dan cinta, kadang tak butuh kata
Karena cinta, hanya butuh pesona
Dan semoga kau: begitu mempesona


Wisma Shalahuddin
20 Oktober 2011, 22:56

sofietisa.co.cc


0 komentar:

Poskan Komentar